Pilihan Terbaik
Karya : Dayukirana E.W.
Pagi itu saat ku buka jendela kamar, aku melihat burung-burung sedang berkicau riang dan tetesan embun yang menyegarkan menjatuhi dedaunan. Angin dipagi hari yang berhembus sepoi-sepoi seraya menyambutku dengan ramah. Seolah mereka memberi pertanda kalau hari ini akan menyenangkan.
Dari luar kamar terdengar suara ibu memanggilku,“ Dara bangun ini kan hari pertama kamu masuk sekolah, jadi jangan sampai terlambat!”
“Ya Bu, sebentar.” Aku bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Tak berapa lama aku sudah siap untuk berangkat.
“Kak, anterin aku dong dah siang ni!” kataku kepada Kak Fitri yang lagi asyik nonton TV.
“Ngrepotin aja sih, makanya kalau bangun jangan siang-siang!” ucapnya sambil memarahi aku.
“Iya deh , jangan marah-marah dong! Kak, gimana penampilan aku hari ini?”
“Oke juga! Tapi nggak biasanya deh kamu rapi kayak gini jangan-jangan kamu….”
“Ih, apaan sih! Aku kan cuma mau buat hari ini jadi spesial aja nggak lebih.” Tanpa terasa aku sudah sampai di depan gerbang sekolah.
“Makasih ya Kak!” Aku berlari meninggalkannya dan menuju kelasku yang baru. Aku seneng banget karena hari ini aku masuk sekolah lagi setelah dua minggu libur kenaikan kelas. Wah nggak terasa waktu berputar cepet banget kayaknya baru kemarin aku diterima sekolah ini tapi sekarang udah kelas 9. Banyak hal yang terjadi di sini setiap detik terdapat moment berkesan buat aku. Aku melamun dan membayangkan kejadian apa yang akan aku alami di kelas ini nantinya. Dari belakang Cintya datang dan mengagetkan aku “ Hei…! Pagi-pagi dah melamun ntar kesambet lho, kamu lagi mikirin apa sih?”
“Ih ngagetin aja sih, aku lagi bayangin kira-kira apa yang akan terjadi di kelas ini nantinya. Eh gimana kabar kamu and ceritain dong pengalaman liburannya? “
“Dah lihatkan aku baik-baik aja, wah liburan kemarin itu berkesan benget buat aku soalnya waktu aku ke Puncak aku ketemu cowok ganteng banget pokoknya perfect abiz deh.”
Waktu terus berputar seiring dengan cerita Cintya yang nggak pernah ada habisnya. Bel masuk berbunyi semua murid masuk kelas. Suasana kelas jadi gaduh karena para murid ribut menceritakan pengalamannya masing-masing saat liburan kemarin. Tak lama kemudian Ibu Guru datang, dalam sekejap suasana kelas jadi hening. Pelajaran pertamaku di kelas ini sudah dimulai. Sekarang aku harus mulai mengenal metode pembelajaran dari masing-masing guru. Waktu terus berlalu, tak terasa bel istirahat telah berbunyi. Semua murid berhamburan ke luar setelah mendapat ijin dari Guru.
“ Pelajaran yang membosankan bikin ngantuk aja!” keluh Cintya sambil berjalan ke luar kelas.
“ Hei, baru masuk aja kok udah banyak ngeluh! Bukan pelajarannya yang membosankan tapi kamunya yang males belajar!” ucapku sambil mengikutinya dari belakang. Seperti biasa dia hanya tersenyum saat mendengar ucapanku. Kami berdua duduk di bawah pohon kamboja yang ada di depan kelas karena cuacanya sangat panas. Angin yang bertiup agak kencang membuat bunga-bunga berguguran, harum bunga kamboja membuat kami merasa tenang. Dalam suasana yang indah ini Cintya mulai curhat padaku tentang Tyo cowok yang dia temui saat liburan kemarin.
”Masak dari tadi aku terus yang cerita gantian kamu dong! Oh iya gimana hubunganmu dengan Rian?” protes Cintya. Aku mulai bercerita tentang pengalamanku waktu liburan kemarin.
Buat aku liburan kemarin berkesan banget banyak pengalaman dan teman baru yang aku peroleh. Saat liburan kemarin aku mulai mengenal seorang pria yang tinggal di dekat rumahku. Buat aku dan remaja yang lain dia adalah guru dan teman yang baik. Panggil saja dia Egi ya begitu orang-orang memanggilnya. Dia orang yang baik dan dalam sekejab semua orang sekitar menjadi temannya, mungkin karena dia orang yang rajin dan ramah juga enak diajak ngobrol. Dia tidak sungkan ikut membantu dalam setiap kegiatan yang diadakan padahal dia bukan asli orang sini tapi dia berperan penting dalam berbagai hal. Mungkin kalau dibandingin, peran dia dengan peran kami sebagai remaja lebih banyak peran dia. Dan nggak aku ungkiri aku kagum dan suka sama dia padahal aku udah punya Rian. Saat itu memang hubunganku dengan Rian sedang renggang jadi aku nggak terlalu yakin dengan perasaanku pada Egi. Sampai saat itu tiba, saat dimana aku harus melepas Egi karena dia ada urusan di luar kota. Saat itu aku merasa kehilangan dia banget. Tapi aku tetap bisa berhubungan dengan dia walau hanya lewat SMS. Baru satu hari dia pergi rasanya kayak satu bulan pokoknya sepi banget. Malam harinya tidak aku sangka dia nembak aku tapi saat itu tawaran dia aku tolak soalnya setatus aku masih sebagai pacar Rian. Kalau aku tega pasti aku terima tawaran dari Egi soalnya hubunganku sama Rian itu nggak jelas entah mau dilanjutin atau putus dan setiap hari adanya cuma berantem nggak ada habisnya. Tapi jujur aku sayang Rian dan inilah awal dari semua kebimbangan yang aku alami. Satu hal lagi yang buat aku nggak bisa ninggalin Rian soalnya aku pernah janji sama dia kalau aku nggak akan mutusin dia dan seandainya kami harus putus dia yang harus mutusin aku.
”Aku nggak salah denger tu? Kenapa kamu pilih diputusin, padahalkan kalau diputusin kamu jadi terkesan bersalah.” Cintya menyela ceritaku.
”Aku nggak mau merasa bersalah yang mendalam untuk kedua kalinya.” jawabku singkat.
”Maksudmu merasa bersalah seperti waktu kamu mutusin Irwan?” tanya Cintya.
Aku hanya tersenyum dan melanjutkan ceritaku yang terpotong tadi. Aku jadi merasa bersalah banget sama Egi jadi aku putusin buat telepon dia di malam berikutnya. Tadinya aku kira dia bakalan marah sama aku tapi aku salah dia tetap bicara dengan lembut padaku bahkan dia mencoba buat meyakinkan aku kalau dia benar-benar cinta dan sayang padaku. Seperti biasa setiap dia mulai bicara, sepatah kata pun tak bisa terucap dari mulutku seolah semua kata yang inginku ucapkan lebur bersama kata-katanya. Saat itu aku masuk dalam dunia yang penuh kebimbangan aku tak bisa memberi kepastian pada Egi. Dan dia memberiku waktu untuk berfikir yaitu sampai dia pulang atau persisnya tiga hari lagi. Karena udah malam jadi aku akhiri pembicaraan itu walau dengan berat hati. ” Met tidur cantik and mimpi indah ya!” itu adalah kalimat terakhir yang dia ucapkan padaku. Entah kenapa saat itu aku merasa bersalah banget sama Rian, aku tahu seharusnya aku nggak lakuin itu tapi apa daya aku juga suka sama Egi.
Tiga hari aku lewati penuh dengan kegalauan. Sampai hari kedatangan Egi aku belum juga mendapat sebuah jawaban. Egi datang dan menungguku di depan rumah, aku pun menghampirinya tak ku ungkiri aku seneng banget bisa melihat dia lagi. Kami bicara banyak hal dan keadaan baik-baik saja sampai pada akhirnya Egi bertanya tentang jawaban dari pertanyaannya beberapa hari yang lalu. Aku hanya diam saat dia bertanya padaku.
“ Kenapa kamu nggak mau jawab, Ra? Bukankah kemarin kamu janji kalau aku pulang kamu akan memberikan jawaban, tapi kenapa sekarang kamu diam?”
“Aku binggung harus jawab apa Gi, aku nggak bisa milih salah satu dari kalian. Aku nggak mau nyakitin kamu, Rian, dan cewek yang suka sama?”
“ Cewek mana, Ra? Aku nggak peduli sama cewek mana pun aku cuma sayang kamu dan sekarang aku butuh jawaban kamu.”
Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku hanya diam, pikiranku jauh melayang antara dua pilihan yang sulit Rian atau Egi.
“ Ra, kamu jangan diam begini jawab, kamu pilih aku atau Rian?”
“ Gi, kamu tahukan status aku masih pacarnya Rian jadi aku nggak mungkin terima kamu. Tapi aku juga nggak mau kehilangan kamu entahlah aku binggung.”
“ Aku nggak peduli kamu punya pacar atau nggak yang penting kamu mau nggak jadi cewek aku? Tapi kalau kamu nggak mau ya udah jawab aja nggak dan besok kita nggak usah berhubungan lagi karena itu cuma akan buat aku sakit.”
“ Kalau kayak gitu sama aja kamu mau nyiksa aku, Gi. Apa nggak ada pilihan lain buat aku? Aku pusing, aku nggak tahu harus jawab apa. Aku nggak mau nanti aku salah ambil keputusan. ”
“ Ya udah aku kasih kamu waktu untuk berfikir lagi tapi besok kamu harus jawab. Dan satu hal yang perlu kamu ingat aku selalu menunggu jawabanmu dan kedatanganmu di sampingku.” itu kata-kata terakhir yang dia ucapkan sebelum beranjak pergi.
Keesokan harinya Rian menelepon aku, “ Met pagi sayang, eh nanti aku mau main ke rumah kamu gimana bisa nggak? Aku punya kejutan buat kamu.”
Saat itu aku kaget banget, habis nggak biasanya Rian semanis ini. Beberapa jam kemudian Rian datang. Dia membawa setangkai mawar merah dan sebuah bungkusan yang terbungkus rapi.
“ What! Rian cowok yang cuek abis itu ke rumah kamu bawa bunga sama kado, apa nggak salah?” Cintya keheranan.
“ Nggak salah kok, aku juga heran kenapa dia jadi seromantis itu. Apalagi kata-kata dia manis banget kayak madu he…he…!”
“ Emang dia bilang apa aja? “
“ Hadiah spesial ini khusus buat pacarku tersayang, gimana kamu suka nggak?” itu adalah kata yang ia ucapkan saat memberikan bunga dan kado itu padaku.
“ Makasih ya, Yan ! Emang ada apa sih nggak biasanya deh kamu seromantis ini? “ tanyaku heran. Dia hanya tersenyum sambil memegang tanganku dan berkata, “Aku sayang and cinta sama kamu sekarang, besok, dan sampai aku mati nanti jadi jangan pernah kau tinggalkan aku.”
“Mimpi apa aku semalam, sampai Rian pacarku yang jutek abis berubah jadi cowok romantis kayak gini.” gumamku dalam hati. Pokoknya banyak deh yang dia katakan padaku saat itu. Yang lebih nggak aku percaya malam harinya dia kirimin aku puisi lewat SMS puisinya gini,
Satu malam telah tiba
Angin pun bertiup manja
Binatang malam mulai membuka suara
Awan putih sembunyi di balik langit jingga
Matahari mulai menutup mata
dan dedaunnan seraya berkata, “GOOD NIGHT DARA SAYANG”.
“ Sumpah aku nggak percaya Rian bisa buat puisi!” bantah Cintya
“Aku juga nggak percaya tapi itu beneran, kalau kamu masih nggak percaya ni baca sendiri SMS-nya masih aku simpan kok.”
“ Iya aku percaya kok terus gimana lanjutan ceritanya?”
Ku mulai ceritaku kembali, mungkin hari itu adalah hari terindah dalam hidupku gimana nggak selama 2 bulan pacaran baru kali ini dia bersikap semanis itu. Saat aku mulai terbuai dengan kenangan manis yang aku alami bersama Rian hari ini tiba-tiba aku ingat pada Egi. Aku jadi ingat kalau besok aku harus kasih jawaban ke Egi. Teng…teng…teng…suara bel tanda masuk berbunyi.
“ Eh sudah bel tu, ayo kita masuk dulu nanti ceritanya aku terusin lagi.”
“ Sambil nunggu gurunya datang terusin dong ceritanya.”
Ketua kelas datang membawa selembar kertas berisikan tugas yang harus kami kerjakan karena gurunya sedang ada keperluan jadi kosong deh.
“ Cuma dikasih tugas berarti kosong dong. Jadi kamu bisa terusin ceritanya ayo cepet aku udah nggak sabar pengen denger lanjutannya!”
“ Iya-iya sebentar nggak sabaran banget sih jadi orang.”
Keesokan harinya Rian masih bersikap manis padaku entah mengapa aku bukannya seneng tapi aku malah biggung gimana nggak kalau begini terus aku akan makin sulit menentukan pilihan. Seharian aku nggak ke luar rumah karena aku belum siap memberikan jawaban kepada Egi. Mereka berdua sama-sama baik dan perhatian. Rian dia pacar yang baik biar pun agak jutek dan mudah marah tapi dia mempunyai sesuatu yang spesial dalam dirinya. Sedangkan Egi dia itu dewasa, perhatian, pengertian, dan aku merasa aman jika berada di dekatnya. Aku nggak mau nyakitin salah satu dari mereka. Seandainya saja mereka tak sebaik ini padaku pasti aku akan lebih mudah menentukan pilihan. Di sisi lain Egi terus mencoba untuk menghubungi aku tapi aku diamkan saja. Hari-hari ku lewati tanpa berhubungan dengan Rian atau pun Egi itu aku lakuakan untuk menentukan pilihanku. Semua itu terus berlanjut sampai akhirnya Egi datang ke rumahku dan kami bicara.
“ Kamu kenapa sih, Ra? Kenapa kamu nggak pernah bisa dihubungi? “
“ Nggak apa-apa kok aku cuma lagi banyak tugas aja jadi sulit dihubungi.”
“ Terus jawaban kamu apa, ini kan sudah lewat seminggu dari hari yang kita sepakati kemarin? “
“ Maaf Gi aku nggak bisa terima kamu buat jadi cowok aku solanya aku masih pacaran sama Rian.”
“ Oh jadi ini jawaban yang harus aku tunggu selama beberapa minggu. Ya udah nggak apa-apa, mungkin ini bisa buat kamu bahagia. Jadi besok kalau kamu ketemu aku kamu nggak usah nyapa anggap aja kita nggak pernah kenal. “
“ Ta…tapi Gi, kenapa harus begini aku nggak mungkin pura-pura nggak kenal sama kamu. Kitakan bisa jadi teman atau kamu mau nggak jadi kakak aku?”
“ Nggak usah makasih, hanya dengan kamu ngejauhin aku aja yang bisa buat aku nerima kenyataan kalau kamu nggak akan pernah aku miliki.”
Aku hanya bisa menagis mendengar semua perkataan Egi. Satu persatu air mataku berjatuhan seiring dengan langkah kaki Egi yang beranjak pergi meninggalkan aku.
“ Jadi kamu lebih milih Rian?” tanya Cintya
Aku hanya menatapnya dan melanjutkan ceritaku yang terpotong tadi. Hari itu adalah hari yang sangat nggak aku harapkan untuk ada. Seharian aku hanya menagis mengenang semua kenangan manis bersama Egi. Hari berikutnya aku bertemu dengan Rian, kami membicarakan tentang kelanjutan hubungan ini. Kami sama-sama kelas 9 dan sebentar lagi ujian jadi kami memutuskan untuk berteman saja karena itu adalah yang terbaik. Rian bisa menerima ini semua aku juga dan inilah yang keputusan yang sebenarnya aku pilih yaitu fokus keujian.
“ Aku tetep sayang sama kamu, Ra. Mungkin setelah kita lulus nanti kita bisa balikan lagi.”
“ Aku juga sayang sama kamu, Yan. Dan keputusan kita ini adalah keputusan terbaik buat kita berdua.”
Kami berdua mulai beranjak pergi meninggalkan tempat kami bicara tadi. Senyum manis itu tidak aku lihat lagi sampai sekarang mungkin itu terakhir kali aku bertemu dengannya. Ya begitulah akhir dari semua kisah yang aku alami selama liburan kemarin. Bukan Rian atau pun Egi tapi ujian, itulah pilihanku.
“ Jadi kamu tinggalin cowok sekeren Rian dan cowok pengertian kayak Egi buat ujian, wah aku salut banget sama kamu, Ra! ”
“ Biarlah aku korbanin semuanya buat ujian, kalau jodoh juga nanti balik lagi.”
“ Terus Egi tahu nggak kalau kamu putus sama Rian and lebih pilih ujian? “
“ Egi nggak tahu apa-apa, yang dia tahu hanya aku nggak terima dia dan lebih milih Rian. Sekarang aku juga nggak pernah berhubungan dengan dia lagi.”
“ Kenapa kamu nggak kasih tahu Egi, padahal kalau dia tahu hubungan kalian bisa lebih baik nggak kayak musuh begini.”
“ Biar aja Cin, mungkin semua ini adalah keputusan terbaik buat aku. Udah ah jangan bicarain itu terus kerjain tu tugasnya ntar dimarahin guru lagi. ”
Waktu terus berputar sampai bel tanda pulang sekolah berbunyi.
“ Akhirnya pulang juga, ayo Ra kita pulang bareng! “
“ Iya, sebentar aku beres-beres dulu.”
Saat kami sampai di depan gerbang sekolah aku mendengar suara yang nggak asing memanggil namaku saatku tengok ternyata Egi.
“ Siapa Ra? “ tanya Cintya penasaran.
“ Egi.” jawabku singkat
Egi datang menghampiriku sedangkan Cintya beranjak pergi meninggalkan kami berdua.
“ Gimana kabar kamu, Ra? Aku denger kamu putus sama Rian ya? “
“ Baik kok Gi, kamu sendiri gimana? Iya aku emang udah putus sama Rian.”
“ Aku nggak terlalu baik Ra, aku nggak bisa lupain kamu. Kapan kamu putus sama Rian dan kenapa apa dia nyakitin kamu? “
“ Hari berikutnya setelah aku nolak kamu, dia nggak nyakitin aku kok ini semua udah jadi keputusan kami berdua kami mau fokus keujian dulu.”
“ Jadi kamu nggak milih salah satu dari kami tapi milih ujian gitu? Kenapa kamu nggak pernah bilang ke aku, Ra? “
“Aku udah pernah bilang sama kamu kan aku nggak mungkin tega nyakitin kalian berdua dengan cara milih salah satu dari kalian. Aku nggak perlu kasih tahu ke kamu masalah ini itu hanya akan buat kamu makin kecewa, iyakan? “
“ Tapi setidaknya aku nggak akan jauhin kamu tanpa alasan gini.”
“ Udahlah aku nggak apa-apa kok. Ya udah jadi sekarang kita baikan lagi .”
“ Iya Ra, aku juga nggak betah pura-pura cuek sama kamu padahal aku peduli banget sama kamu. Pulang bareng aku yuk. ”
“ Iya deh lagian Cintya juga udah pulang duluan kok jadi aku nggak punya temen.”
Kami pulang berdua, saat itu seakan semua kisah yang hampir terlupakan kini terulang lagi tapi aku nggak akan terpengaruh buat aku ujian lebih penting. Sepanjang perjalanan pulang kami bicara banyak hal dan sebelum aku masuk ke dalam rumah dia bilang satu hal padaku, “ Ra, aku masih sayang sama kamu and aku mau kok nunggu sampai kamu lulus atau sampai kapan pun.”
Sekarang aku jadi lebih giat belajar setiap ulangan aku selalu mendapatkan nilai yang memuaskan disisi lain aku tetap berteman baik dengan Rian dan Egi. Hari-hari kini jadi lebih bermakna.